My document

Thursday, August 10, 2006

isk-usk


SURAT REKOMENDASI

Saya telah mengenal saudara Iskandar A.S sejak yang bersangkutan menjadi mahasiswa saya pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dimana saya telah mengajar kurang lebih 18 tahun dan dipercayakan menjadi Ketua program Studi Pendidikan Bahasa Inggris selama 2 (dua) periode yaitu sejak tahun 1992 sampai dengan 1998.

Selama mengikuti pendidikan dalam bidang pendidikan Bahasa Inggris pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala yang bersangkutan telah memperlihatkan prestasi akademik yang baik. Sejauh yang saya ketahui yang bersangkutan rajin, disiplin, kooperatif, loyal terhadap almamaternya, dan berbudi luhur.

Oleh karena itu saya sangat mendukung pencalonannya sebagai staff pengajar pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala.

Demikianlah surat rekomendasi ini diperbuat agar dapat dipergunakan seperlunya.


Banda Aceh, 25 Oktober 2003


DR. USMAN KASIM, M.Ed
Staff Pengajar Senior

isk-syb


Letter of Recommendation
To whom it may concern
This is to certify that I have known Iskandar. AS, S.Pd since he was in his first semester at the English Education Department, Syiah Kuala University. He was very active in any activities related to academic activities and also in extra curricula. He has a high confidence for his future. He always sees his future life confidently by trying his best to study hard.
In addition to being active in academic activities, he also has a potential to be a good leader. He can manage himself wisely and therefore, he is punctual in managing his time, cooperative with his friends and colleagues and always complete the tasks rendering to him on the given time. He was ranked as one of the best three students in his class.
I understand that he is now applying to pursue his studies in Teaching English as Second or Other Languages ( TESOL ) in the United States of America with a scholarship from Fulbright. Should he be given on opportunity to pursue his Master’s Degree in the USA, I am convinced that he can complete his study on time. We have assigned him to teach at the first semester students of our department to strengthen our curricula since he graduated from our department in 2002. The knowledge he obtains from the USA will strengthen our department
Based on the above considerations, I strongly recommended that he be given a scholarship to study in the USA.
Should you have further queries about Iskandar and his application, please do not hesitate to contact me at the address below :

Drs. Syamsul Bahri Ys, M.A
Director, Language Center of Syiah Kuala University
Banda Aceh 23111, Indonesia
Phone: +62-651-7412665
Mobile: +62-811 68 7122

Banda Aceh, April 30, 2005
Sincerely Yours,


Drs. Syamsul Bahri Ys, MA
Academic Adviser and
Director of Syiah Kuala University Language Center

rekomendation letter


To Whom It May Concern

This is to certify that I have known Mr. Iskandar for more than five years. He was a student at the English Education Study Program of the College of Teacher Training and Education, Syiah Kuala University, Indonesia. Mr. Iskandar just graduated from the college with an exceptional result. His Grade Point Average (GPA) is 3.24 of scale 4.00.
During his undergraduate studies, I found that Mr. Iskandar was exceptional in many aspects. Academically, Mr. Iskandar was always among the top ten percent in the class. His competence in the English Education reflects in his speaking ability. The fact is that Mr. Iskandar performs better in speaking, and I am pleased to inform you that his oral English must be one of the best at his almamater. This makes him a famous and favourite teaching staff at Syiah Kuala University Language Center. His teaching skill motivates many learners to learn English from him.
Socially, Mr. Iskandar is quite mature. He can function himself as a communicative individual with people of different backgrounds. He proved in a number of activities I chair. I found that he is broad-minded in dealing with any differences that challenge him in running his daily tasks as a junior teaching staff. As I learn more about him from his peers and the lecturers who had taught him during his undergraduate studies. I am convinced that Mr. Iskandar is an appropriate candidate for advanced studies.
Recently, he informed me that he is interested in pursuing a masters’ degree in the field of Teaching English as a Foreign or a Second Language (TESOL) in the United States of America. Considering his background, I believe that his interest will be very useful for his future career. He also plans to apply for the Fulbright Faculty Development Grant to Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) University Faculty. I am convinced that Mr. Iskandar will be able to succeed in the target country because he has had experience being overseas for students exchange to Canada and to study English in Australia for six months. His academic and social experience also convince me to recommend him strongly to you. Should you need any further information regarding his application to receive Fulbright Scholarship please do not hesitate to contact me


April 30, 2005
Regards,


Darni M. Daud, Ph.D
Lecturer in English Education and Vice Rector for Academic Affairs

laporan PKA

LAPORAN KETUA PANITIA
PENUTUPAN SEMINAR BUDAYA
PEKAN KEBUDAYAAN ACEH IV
PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
JUM’AT, 27 AGUSTUS 2004
Pusat Kegiatan Akademik Prof. Dr. Dayan Dawood, MA
Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT, Selawat beriring salam kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad SAW.

Yang kami hormati:
- Bapak Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam beserta Ibu;
- Kapolda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Selaku Pelaksana Harian Penguasa Darurat Sipil Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;
- Unsur Muspida Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;
- Bapak Rektor Unsyiah dan Rektor IAIN Ar-Raniry;
- Para Guru Besar, narasumber, sivitas akademika dan peserta seminar budaya sekalian;
- Para Kepala Dinas/Instansi;
- Para undangan dan hadirin sekalian yang berbahagia;
Pada kesempatan ini terlebih dahulu kami dari panitia Seminar Budaya Pekan Kebudayaan Aceh IV mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu/Saudara(i) para undangan sekalian yang telah berkenan hadir pada acara penutupan Seminar Budaya PKA IV ini.
Seminar yang telah berlangsung selama empat hari ini mengkaji budaya Aceh dari berbagai aspek yang bermakna bagi pembaharuan budaya Aceh ke depan dalam menghadapi aneka tantangan yang semakin mengglobal.

Seminar yang diikuti oleh berbagai kalangan ini telah melacak khazanah pembaharuan budaya Aceh dalam berbagai perspektif (sejarah, pendidikan, sosioantropologi, ekonomi, bahasa). Disamping itu, telah dikaji pula peran budaya dalam merajut silahturahmi, kedamaian dan masjid sebagai sentra budaya. Rekomendasi dari seminar ini diharapkan dapat dijadikan masukan baik bagi pihak legislatif maupun eksekutif dalam mengkonstruk budaya Aceh ke depan. Dengan demikian, hasil seminar ini tidak hanya diharapkan berbentuk buku saja, namun juga dapat disosialisasikan kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat Aceh, dan ditindak lanjuti oleh pihak yang berwenang (pemerintah).

Bapak/Ibu, Hadirin yang kami muliakan

Seminar ini telah berlangsung sukses, yaitu mulai dari tanggal 24 s/d 27 Agustus 2004. Pelaksanaannya dibagi dalam dua sesi yaitu Plenary dan paralel. Pada Sesi plenary dipresentasikan 11 Pemakalah dari dalam
dan luar negeri, sedangkan sesi paralel dibagi ke dalam empat kelompok, yang dibahas oleh 39 pemakalah dari berbagai kalangan.

Seminar yang bertemakan “Reaktualisasi Budaya Aceh dalam Konteks Globalisasi” ini telah menghimpun berbagai pendapat, informasi, gagasan, dan saran dari berbagai pihak sebagai ikhtiar untuk membentuk konfigurasi kebudayaan Aceh sebagai bagian dari kebudayaan nasional. Dengan kata lain, seminar ini telah menjadi wahana pengkajian, pemikiran, dan penelusuran sejarah dan kebudayaan Aceh untuk melahirkan konsep dan pemikiran baru dalam menghadapi tantangan global serta meningkatkan peran produk budaya dalam rangka pengembangan ekonomi masyarakat.

Bapak/Ibu, Hadirin yang kami hormati,

Secara ringkas seminar ini telah mengkaji berbagai pemikiran yang bersifat teoritis dan praktis. Dimensi teoritis diarahkan pada pentingnya berbagai penelitian dan publikasi yang berkaitan dengan kebudayaan (sastra, seni, dll), khususnya kebudayaan Aceh, agar dapat lebih digalakkan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Ini dapat meningkatkan pemahaman berbagai pihak tentang kebudayaan Aceh, termasuk sistem nilai, sistem sosial, teknologi, seni, mata pencaharian, penduduk, bahasa dan sastra, permainan rakyat, pengetahuan, hukum, adat, institusi masyarakat, khususnya masjid sebagai salah satu sentra budaya.

Dari perspektif praktis, secara ringkas, direkomendasikan hal-hal berikut:
(1) Pendekatan budaya agar senantiasa digunakan dalam segala bidang pembangunan, termasuk menggunakan Taman Ratu Safiatuddin bagi pemanfaatan dan pelestarian budaya melalui event-event budaya di Taman Ratu Safiatuddin seperti Pekan Kebudayaan Aceh.
(2) Pendidikan yang merupakan suatu pewarisan nilai budaya harus senantiasa sarat dengan budaya dan tradisi, di satu pihak, namun ia harus juga mampu membekali peserta didik dalam menghadapi globalisasi.
(3) Dalam membangun jatidiri masyarakat, perlu ada perangkat legalitas, seperti Qanun tentang kebijakan dan pemberdayaan bahasa dan sastra daerah yang dapat memperkuat kebudayaan daerah sebagai bagian integral dari kebudayaan nasional.
(4) Adanya Taman Ratu Safiatuddin hendaknya dapat dijadikan cikal bakal bagi kelahiran Fakultas Sosial Budaya, dan atau Institut Seni Nanggroe Aceh Darussalam. Setidaknya, perlu dilakukan inisiatif untuk mengembangkan apa yang telah dimiliki, termasuk pembukaan jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Syiah Kuala. Upaya ini merupakan salah satu ikhtiar yang cukup berarti bagi pembangunan kebudayaan yang perlu terus diisi di provinsi ini.
(5) Pendekatan budaya, yang menghargai hakikat dan martabat masyarakat Aceh, perlu ditumbuh-kembangkan dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi.
(6) Dalam berbagai aktivitas penanganan masalah umat, hendaknya masjid dapat berfungsi secara maksimal sebagai pusat kegiatan ritual, pusat berbagai kegiatan umat, yang didukung oleh manajeman yang baik, dengan segala informasi kekinian. Dirasa perlu juga untuk menghimpun semua masjid di dunia dalam sebuah wadah, dalam rangka mengantisipasi dunia yang mengglobal.

Perlu kami sampaikan bahwa masih banyak yang harus dirumuskan sebagai hasil seminar ini. Untuk itu, akan dilakukan pembukuan rumusan yang komprehensif dan detail nantinya, baik yang bersifat teoritis maupun praktis bagi upaya pembangunan budaya di Aceh Darussalam ini.

Hadirin yang mulia,

Kami dari panitia menyadari tidaklah mudah bagi Bapak/Ibu meluangkan waktu untuk berperan aktif sebagaimana telah Bapak/Ibu tunjukkan pada seminar ini. Semoga semua ini cukup bermakna bagi pelestarian dan pengembangan budaya Aceh. Kami bangga dengan kontribusi yang telah Bapak/Ibu berikan untuk menyukseskan seminar ini.

Dapat kami laporkan juga bahwa penutupan acara seminar ini diikuti oleh 1000 hadirin. Dari jumlah ini, sejumlah 600 orang merupakan peserta seminar itu sendiri. Mereka berasal dari 21 Kabupaten dan Kota, utusan berbagai Instansi Pemerintah dan swasta, kalangan akademisi, tokoh adat, kalangan pemuda dan mahasiswa dan tidak ketinggalan dari kalangan perempuan yang berasal dari Aceh, nasional, dan bahkan internasional.

Demikianlah laporan singkat kami. Atas partisipasi, dukungan serta kerjasama yang baik dari Bapak/Ibu sekalian, sekali lagi kami ucapkan terima kasih. Atas segala kekurangan yang barangkali Bapak/Ibu/Sdr dapati disana sini kami mohon diperbanyak maaf. Kepada Bapak Gubernur NAD, atau yang mewakili, kami mohon untuk memberikan sambutan dan sekaligus menutup seminar ini secara resmi.

Akhirul kalam, Wabillahi Taufik Walhidayah,
Wassalammu’alaikum Wr.Wb.

Ketua Bidang Seminar PKA IV,



Dr. Darni M. Daud, MA

pembukaan PKA

SAMBUTAN
P A D A
PEMBUKAAN SEMINAR BUDAYA PEKAN KEBUDAYAAN ACEH (PKA) IV PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
GEDUNG ACADEMIC ACTIVITY CENTER PROF. DR. DAYAN DAWOOD, M.A. UNIVERSITAS SYIAH KUALA, DARUSSALAM, BANDA ACEH
SELASA, 24 AGUSTUS


Assalamu’alaikum wr. wb.
Hamdan wa syukran Lillah. Salatan wa salaman 'ala Rasulillah, wa'ala alihi washahbihi wamanwalah.
Yang saya hormati:
- Bapak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI beserta Ibu Ardhika dan segenap rombongan,
- Pangdam Iskandar Muda,
- Kapolda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Selaku Pelaksana Harian Penguasa Darurat Sipil Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;
- Ketua dan Anggota DPRD Provinsi NAD,
- Unsur-Unsur Muspida Provinsi NAD,
- Rektor Unsyiah dan Rektor IAIN Ar-Raniry,
- Saudara para Bupati dan Walikota,
- Para Narasumber, Peninjau, dan Peserta Seminar Budaya yang berasal dari luar dan dalam negeri,
- Tokoh adat dan budaya dan sivitas akademika,
- Para undangan dan hadirin sekalian yang berbahagia.

Dengan penuh rasa syukur ke hadirat Ilahi Rabbi dan rasa bangga yang dalam, perkenankan saya atas nama pemerintah dan rakyat Nanggroe Aceh Darussalam, menyampaikan ucapan selamat datang dan bersua kembali kepada Bapak Menteri beserta Ibu Ardhika dan segenap rombongan dari Jakarta untuk memenuhi undangan kita semua, dalam rangka membuka Seminar Budaya Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) IV di Pusat Kegiatan Akademik (Academic Activity Center) Prof. DR. Dayan Dawood, M.A., Universitas Syiah Kuala; kampus yang dijuluki sebagai “jantung hati rakyat Aceh” ini. Belum lama berselang, Yang Terhormat Bapak I Gede Ardhika, juga berkesempatan hadir di gedung yang megah ini untuk membuka dan sekaligus melakukan Pencanangan 2004 sebagai Tahun Budaya Provinsi NAD.
Hari ini, kita semua kembali bertemu bersama-sama dengan Bapak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dan tokoh adat dan budaya serta pengamat dan peminat budaya dalam dan luar negeri, untuk mengikuti Seminar Budaya yang akan menelaah banyak hal yang berkaitan dengan Kebudayaan Aceh dalam Seminar bertema “Reaktualisasi Budaya Aceh dalam Konteks Globalisasi” ini.

Bapak Menteri dan hadirin yang saya muliakan,
Kebudayaan adalah sisi yang teramat penting bagi masyarakat Aceh. Dari catatan sejarah yang ada, pengaruh kebudayaan Aceh tidak hanya terbatas pada lingkup regional semata, melainkan telah merambah ke seantero nusantara, dan Asia Tenggara. Hal ini terkait dengan kehadiran Kerajaan Islam Aceh Darussalam yang telah menjadikan wilayah paling barat Indonesia pada masanya sebagai pusat tamaddun terkemuka di wilayah Asia Tenggara.
Sebagai pusat tamaddun, Aceh telah menjadi spasial budaya yang amat penting di Asia Tenggara dan juga di Nusantara. Berbicara tentang kebudayaan nusantara, dan juga Asia Tenggara, akhirnya, senantiasa kita harus berpaling dan membicarakan tentang Aceh bahkan, masih segar dalam ingatan kita bahwa Bapak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada Pencanangan Tahun Budaya 23 Februari 2004 sempat mengatakan “di negeri ini berawal sebuah peradaban baru yang bernama Islam; di negeri inilah cikal bakal kesusateraan Melayu berawal yang kemudian menjadi kesusasteraan Indonesia”.
Jika kita melakukan napak tilas sejarah, maka memang demikianlah faktanya. Paling tidak, bila kita menjenguk ke abad XVII; sebuah kurun waktu di mana kebudayaan Aceh mencapai masa kegemilangannya (golden age). Pada masa itu, dari segi karya-karya sastra dan intelektual adalah kurun yang sangat produktif. Berbagai karya sastra, baik yang mengandung unsur keagamaan ataupun tidak, ditulis pada abad ini. Maka tercatatlah karya-karya budaya yang monumental, seperti Hikayat Aceh, Bustan al-Salathin dan Taj al-Salathin.
Pengaruh Islam telah merasuk ke seluruh aspek kehidupan masyarakat meliputi pemerintahan, hukum, politik, ekonomi, kesenian sampai pada aspek kehidupan pribadi. Pada masa itu, Aceh tak ubahnya sebuah miniatur kehidupan Jazirah Arab di timur yang kental dengan budaya Islam. Oleh karena itulah, Aceh dijuluki sebagai Serambi Mekkah. Nilai Islam bukan hanya sebagai dogma yang ada dalam al-Quran dan Hadist, tetapi terjelma dalam perkataan dan perbuatan, sehingga Van Vollen Hoven (1981: 55) yang dikenal sebagai pembela budaya rakyat pribumi Nederland Indie ini mengatakan, of the world religions, Islam is found here and professed of all Achehnese.
Dengan bahasa Melayu yang diadopsi sebagai bahasa pengantar dan corak Islami dari karya-karya budaya yang lahir pada abad XVII tersebut, telah mengakibatkan terjadinya percepatan penyebaran karya-karya budaya berkarakter islami itu ke berbagai wilayah Nusantara dan Asia Tenggara, sekaligus penyerapannya di berbagai spasial budaya lainnya. Maka, budaya (Melayu) Aceh yang bercorak dan berakar pada Islam menjadi berkembang melewati batas-batas teritori Kerajaan Aceh Darussalam, dan menyebar di seluruh penjuru Nusantara dan di kawasan Asia Tenggara.
Kita memahami bahwa kemegahan Aceh adalah sebuah sejarah masa lalu. Aceh saat ini bukan Aceh abad ke-17. Semenjak dari kurun waktu itu telah terjadi berbagai ironi historis dan diskontunuitas dalam perjalanan sejarah masyarakat di wilayah ini. Mengembalikan Aceh abad ke-17 ke masa kini tentu tidak mungkin. Terlalu banyak gap antara masa lalu dan masa kini. Waktu telah berubah, dan – sekali lagi ditekankan -- sejarah Aceh dari abad ke-17 sampai dengan masa kini telah melalui jalan yang panjang dan penuh liku. Dalam perjalanan sejarahnya, wajah Aceh telah banyak berubah. Oleh karena itu, romantisasi tentu bukan tindakan yang bijak.
Namun, sejarah Aceh masa lampau, khususnya abad ke-17, sarat dengan pelajaran. Untuk itu perlu upaya yang bijak untuk memetik spirit masa itu untuk dibawa kepada masa kini. Sesungguhnya, banyak hal dari kegemilangan masa lalu yang dapat ditarik untuk masa kini, tentu, dengan beberapa penyesuaian dengan kondisi kekinian. Hal-hal tersebut dapat berupa semangat keagamaan para penguasa, ethos kerja, budaya intelektual, keterbukaan dan sikap toleransi dan lainnya. Demikian juga halnya dengan proses Islamisasi dan pelaksanaan syari‘at Islam di kerajaan ketika itu perlu dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi kekinian. Bukankan sejarah merupakan pelajaran bagi generasi berikutnya?

Bapak Menteri dan hadirin yang saya muliakan,
Seminar Budaya PKA IV ini merupakan momentum untuk menyadarkan kita semua untuk kembali ke fitrah Aceh sebagai sebuah negeri pewaris tradisi besar Nusantara dengan masyarakatnya yang berbudaya dan berwawasan pluralistik serta egalitarian guna membangun masa depan masyarakat Indonesia yang berbudaya luhur dan berkesejahteraan yang berkeadilan. Di samping itu, hal terpenting yang perlu mendapat perhatian ialah pemaknaan atas kegemilangan yang pernah diraih Aceh dan spirit yang melingkupi masa lalu Aceh yang amat megah itu, guna membahani kita semua dan menjadi pijakan dan arah pembangunan Aceh ke depan.
Melalui Seminar Budaya ini diharapkan dapat dihimpun berbagai pemikiran dan gagasan dalam rangka menggali, mengembangkan, dan melestarikan kebudayaan Aceh untuk membangun konfigurasi kebudayaan nasional serta menemukan format konservasi budaya yang sesuai dengan konteks globalisasi. Selain itu, kiranya dapat ditingkatkan apresiasi serta inovasi budaya guna memperkuat kepribadian bangsa, dipertebal semangat kebangsaan, dan diperkokoh jiwa persatuan dan kesatuan dalam rangka integrasi bangsa. Diharapkan pula dari Seminar ini kiranya dapat diretas jalan ke arah pengembangan dan peningkatan kreativitas budaya dalam berbagai perspektif, baik ekonomi, sosio-politik, teknologi-industri, maupun sosio-religi, sehingga produk budaya budaya dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat di tingkat daerah pada khususnya, serta di tingkat nasional pada umumnya.

Bapak Menteri dan hadirin yang saya muliakan,
Seminar budaya yang bertaraf internasional ini dipaduserasikan pula dengan Muzakarah Masjid se-Asean. Masjid dalam perspektif budaya Melayu memang merupakan sentra-budaya Islam, dan bukan sekadar tempat di mana ritual keagamaan dilaksanakan. Kiranya kegiatan muzakarah yang bermaksud menghimpun pemikiran dalam rangka mengembangkan masjid sebagai salah satu sentra-budaya dan pusat aktivitas umat memiliki kaitan yang cukup signifikan pula untuk dipaduserasikan dengan Seminar Budaya ini, sehingga sentra-budaya ini dapat difungsikan kembali dalam rangka upaya kita memajukan dan melestarikan budaya bangsa.
Hal yang amat menggembirakan tentu saja perhatian yang cukup besar dari Pemerintah melalui Kantor Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Sebagian kegiatan dari kantor kementerian tahun 2004 tersebut dipadukan, diintergrasikan, dan dialokasikan guna mendukung dan mengisi Tahun Budaya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, di mana PKA IV dan Seminar Budaya adalah even utamanya.
Dari catatan yang disampaikan kepada kami, dalam rangka Tahun Budaya Provinsi NAD dan PKA IV ini, untaian acara/kegiatan dalam bingkai “Khasanah Budaya Pemersatu Bangsa” yang diselenggarakan Kementerian Budaya dan Pariwisata adalah sebagai berikut:
1. Lawatan Sejarah tingkat Nasional II Tahun 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam bertema “Dari Sabang Kita rajut Simpul-simpul Perekat Ke-Indonesiaan” yang diikuti oleh Siswa dan Guru Terbaik Tingkat SMA se-Indonesia;
2. Pameran dan Pagelaran Seni se-Sumatera (PPSS) VII yang diikuti oleh seluruh Taman Budaya yang ada di Pulau Andalas;
3. Festival Pertunjukan Seni Nusantara yang diikuti oleh Tim Kesenian dari Seluruh Indonesia;
4. Dialog Nasional Sejarah Pemikiran Kolektif Bangsa bertema: “Aceh dalam Kerangka NKRI”; (yang pelaksanaannya juga diintegrasikan dengan seminar budaya ini)
5. Pameran dan Diskusi Makanan Tradisional Aceh bertema: “Cita Rasa Makanan Tradisional Aceh dalam Tantangan”;
6. Pameran dan Diskusi Tenun Tradisional Aceh bertema: “Mengangkat Citra Tekstil Tradisional Aceh”.
7. Semiloka Snouck Hurgronje (sejarah, Pemikiran, Kebudayaan, dan Kemasyarakatan).
Tentu saja, perhatian yang sungguh-sungguh dan cukup besar dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata membuat Tahun Budaya Provinsi NAD dan PKA IV menjadi lebih bermakna. Memang, kami amat manaruh harapan yang tinggi atas perhatian dan pengayoman dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dan Pemerintah Pusat dalam upaya mengembangkan dan mengawal kelestarian budaya Aceh. Untuk itu, atas nama Pemerintah Provinsi NAD dan masyarakat Aceh, kami menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya atas perhatian dan apresiasi dari Bapak Menteri dan segenap jajarannya terhadap pengembangan, pemeliharaan, dan pelestarian budaya Aceh.

Bapak Menteri yang kami muliakan,
Seperti telah kami singgung dalam sambutan pada Pencanangan 2004 sebagai Tahun Budaya Provinsi NAD pada 23 Februari lalu, bahwa kita berharap pencanangan tahun budaya dan pelaksanaan PKA IV ini kiranya berbagai serpihan kristal budaya Aceh yang berserakan dapat kembali kita kumpulkan dan kita tata ulang, untuk kemudian dapat dipajang di sebuah altar budaya yang agung. Sehingga, dengan pendekatan budaya kita ke depan dapat membangun negeri yang semakin humanis dan madani, menyelesaikan konflik yang ada di tingkat lokal, bahkan dapat pula menyelesaikan aneka persoalan yang melilit bangsa besar ini.
Selama Tahun Budaya ini, kiranya juga lima agenda pokok, yakni konsolidasi, kaderisasi, patenisasi, sosialisasi, dan internasionalisasi budaya Aceh dapat dilakukan. Untuk itu, kami sangat berharap kiranya mendapat dukungan konkret dari Bapak Menteri dan pemerintah pusat untuk terlaksananya kelima agenda tersebut.

Bapak Menteri dan hadirin yang berbahagia.
Mengakhiri sambutan ini, sekali lagi kami menaruh harapan yang tinggi kiranya Bapak Menteri dan pemerintah pusat senantiasa memberikan dukungan untuk agenda besar Pemerintah Provinsi NAD dan masyarakat Aceh ini. Kepada peserta dan narasumber Seminar Budaya PKA IV ini disampaikan pula harapan agar kegiatan yang membincangkan sisi Aceh yang teramat penting ini dapat menghasilkan sesuatu yang amat berarti bagi pembangunan Aceh Baru.
Akhirnya dengan kerendahan hati dan atas izin semua kita, saya mohon perkenan Bapak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata untuk membuka Seminar Budaya PKA IV. Semoga Allah SWT memberkati dan melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua dalam membentuk manusia yang semakin berbudaya dan humanis di bumi persada ini. Amin ya Rabbal alamin.
Billahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

GUBERNUR
PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM,


IR. H. ABDULLAH PUTEH, M.Si

ketua seminar PKA





LAPORAN KETUA PANITIA
SEMINAR BUDAYA
PEKAN KEBUDAYAAN ACEH IV
PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
SELASA, 24 AGUSTUS 2004
Gedung Kegiatan Akademik Prof. Dr. Dayan Dawood, MA
Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT, Selawat beriring salam kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad SAW.

Yang kami hormati:
- Bapak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, dalam hal ini diwakili oleh Bapak Deputi Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI;
- Bapak Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam beserta Ibu;
- Bapak Kapolda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Selaku Pelaksana Harian Penguasa Darurat Sipil Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;
- Bapak-Bapak Unsur Muspida Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;
- Bapak Rektor Unsyiah dan Rektor IAIN Ar-Raniry;
- Para Guru Besar
- Bupati dan Walikota se Provinsi NAD;
- Para Kepala Dinas/Instansi
- Para Narasumber, Tokoh adat dan budaya, sivitas akademika, dan Peserta Seminar Budaya;
- Para undangan dan hadirin sekalian yang berbahagia;

Pada kesempatan ini terlebih dahulu kami dari panitia Seminar Budaya Pekan Kebudayaan Aceh IV mengucapkan selamat datang kepada Bapak Menteri atau yang mewakili beserta rombongan, Bapak Gubernur beserta para undangan, pemateri dan peserta seminar sekalian di Pusat Kegiatan Akademik Prof. Dr. Dayan Dawood, MA Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh.

Kehadiran Bapak Ibu sekalian di tempat ini kami maknai sebagai partisipasi yang sarat makna dalam menyukseskan kegiatan PKA IV. Seminar, yang merupakan rangkaian tak terpisahkan dari PKA IV, dilaksanakan mulai 24 sampai dengan 27 Agustus 2004.


Bapak Ibu, Hadirin yang kami muliakan

Kebudayaan Aceh merupakan tradisi dan warisan dari perkembangan dialogis dan dialektis dari berbagai unsur dan sistem di masa lampau. Semua ekspresi kebudayaan ini, yang diwujudkan dalam pelbagai sistem nilai, sistem sosial, teknologi, seni, mata pencaharian, penduduk, bahasa dan sastra, permainan rakyat, pengetahuan, hukum, serta adat, merupakan sintesa budaya yang terus diwariskan kepada generasi selanjutnya. Akan tetapi, dalam perjalanan sejarah pewarisan itu, beberapa unsur budaya dan nilai universal yang terkandung di dalamnya ikut memudar dan bahkan menghilang dari kehidupan individu dan masyarakat. Untuk itu, diperlukan penggalian kembali, pembenahan dan pengembangan, agar kebudayaan itu dapat dan terus berkembang, yang disamping menjadi aset kebudayaan bangsa juga menjadi penyaring dan penyeleksi budaya asing di zaman globalisasi ini.



Bapak Ibu, Hadirin yang kami muliakan

Latar pemikiran di atas merupakan faktor pendorong bagi perlunya diselenggarakan suatu seminar budaya yang berskala internasional dalam rangka mengisi salah satu kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh IV. Melalui seminar ini diharapkan dapat menghimpun berbagai pendapat, informasi, gagasan, dan saran dari berbagai pihak sebagai ikhtiar untuk membentuk konfigurasi kebudayaan Aceh sebagai bagian dari kebudayaan nasional. Seminar ini hendaknya dapat menjadi wahana pengkajian, pemikiran, penelusuran, dan pelurusan sejarah dan kebudayaan Aceh untuk melahirkan konsep dan pemikiran baru dalam menghadapi tantangan global serta meningkatkan peran produk budaya dalam rangka pengembangan ekonomi masyarakat. Untuk itu, seminar ini akan menelaah kebudayaan Aceh dari berbagai perspektif yang multidisipliner, seperti agama, filsafat, sejarah, antropologi, sosiologi, biologi, psikologi, ekonomi, dan politik.

Karena itu, seminar ini memilih tema “Reaktualisasi Budaya Aceh dalam Konteks Globalisasi”. Tema tersebut dijabarkan ke dalam tujuh sub tema (1) Budaya Aceh dalam Perspektif Sejarah. (2) Budaya Aceh dalam Perspektif Sosioantropologis. (3) Budaya Aceh dalam Perspektif Pendidikan. (4) Budaya Aceh dalam Perspektif Ekonomi dan Globalisasi. (5) Bahasa dan Sastra Daerah Aceh sebagai Jati Diri. (6) Peranan Budaya dalam Merajut Kedamaian dan Silaturrahmi. (7) Peranan Masjid Sebagai Sentra Budaya Bangsa dan Pembinaan Umat. Disamping itu, Dialog Nasional “Sumbangan Pemikiran Rakyat Aceh Terhadap Negara Kesatuan Repulik Indonesia” dipaduserasikan dengan Seminar Budaya ini.

Bapak Ibu, Hadirin yang kami muliakan

Seminar menghadirkan pemakalah undangan (atas permintaan Panitia) dan pemakalah swakarsa (atas inisiatif peminat) yang berjumlah 50 orang. 11 orang diantaranya adalah pemakalah plenary dan selebihnya pemakalah paralel yang dibagi ke dalam empat kelompok. Sesi plenary dijadwalkan pada pagi hari mulai pukul 09.00 sampai dengan 12.30 dan sesi paralel dari pukul 14.00 – 17.30.

Pemakalah undangan ada yang didatangkan dari luar negeri, tokoh dan pakar ternama nasional baik yang berasal dari Provinsi NAD maupun dari berbagai daerah lainnya, dan juga ada sejumlah pemakalah yang berasal dari kabupaten kota. Dengan demikian, latar pemakalah dari berbagai kalangan dengan disiplin dan pengalaman yang cukup berpariasi pula. Namun, kami yakin bahwa mereka melahirkan pemikiran inovatif dan kreatif bagi ikhtiar kita bersama untuk menumbuhkembangkan budaya Aceh yang notabene dapat memberikan kontribusi dalam merajut kedamaian, kerukunan, dan kesejahteraan.

Hadirin yang mulia,

Akhirnya dapat kami laporkan pula bahwa pembukaan acara seminar ini dihadiri oleh 1000 undangan. Sedangkan peserta seminar itu sendiri berjumlah 600 orang, yang berasal dari 21 Kabupaten dan Kota, utusan berbagai Instansi Pemerintah dan swasta, kalangan akademisi, tokoh adat, kalangan pemuda dan mahasiswa dan tidak ketinggalan dari kalangan perempuan yang berasal dari Aceh, nasional, dan bahkan internasional

Demikianlah laporan singkat kami. Atas partisipasi, dukungan serta kerjasama yang baik dari Bapak, Ibu dan Hadirin Hadirat sekalian, sekali lagi kami ucapkan terima kasih. Mohon maaf atas segala kekurangan, kepada Bapak Gubernur untuk memberikan sambutan dan kepada Bapak Deputi Sejarah dan Purbakala Kementrian Pariwisata dan Kebudayaan RI kami mohon dapat memberi sambutan dan sekaligus membuka seminar ini secara resmi.

Akhirul kalam, Wabillahi Taufik Walhidayah,
Wassalammu’alaikum Wr.Wb.


Ketua Bidang Seminar PKA IV,




Dr. Darni M. Daud, MA

pidato

SAMBUTAN
MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA
REPUBLIK INDONESIA
P A D A
PEMBUKAAN SEMINAR BUDAYA PEKAN KEBUDAYAAN ACEH (PKA) IV
SELASA, 24 AGUSTUS 2004

Sdr. Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;
Sdr. Pangdam Iskandar Muda,
Sdr. Kapolda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Selaku Pelaksana Harian Penguasa Darurat Sipil Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;
Sdr. Ketua dan Anggota DPRD Provinsi NAD,
Sdr. Unsur-Unsur Muspida Provinsi NAD,
Sdr. Rektor Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry,
Sdr. Saudara para Bupati dan Walikota,
Sdr.Para Narasumber, Peninjau, dan Peserta Seminar Budaya yang berasal dari luar dan dalam negeri,
Sdr. Tokoh adat dan budaya, para mahasiswa & sivitas akademika,
Sdr.Para undangan dan hadirin sekalian yang berbahagia.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dengan penuh kegembiraan hati, pada pagi yang berbahagia ini, saya dengan perkenan Bapak dan Ibu sekalian dan masyarakat Aceh secara keseluruhan hadir kembali di mimbar ini dalam rangka membuka Seminar Budaya Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) IV di gedung megah yang menjadi perlambang kampus ‘Jantung Hati’ rakyat Aceh ini. Tepat lima setengah bulan berselang di tempat ini juga saya hadir bersama Bapak/Ibu sekalian guna membuka event Pencanangan 2004 sebagai Tahun Budaya Provinsi NAD. Pencanangan tahun budaya tersebut merupakan kegiatan awal dari tekad Pemerintah Provinsi NAD dan masyarakat Aceh untuk menjadikan tahun 2004 sebagai tahun budaya. Klimaks dari berbagai event yang dilaksanakan dalam rangka mengisi tahun budaya tersebut ialah pelaksanaan PKA IV ini; suatu event di mana persembahan budaya Aceh disuguhkan secara komprehensif kepada khalayak.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,
Sesuatu yang tidak bisa dipungkiri bahwa berbicara tentang kebudayaan nusantara, dan juga Asia Tenggara, senantiasa kita harus berpaling ke dan membicarakan tentang Aceh. Hal ini dikarenakan Nanggroe Aceh Darussalam tidak sekadar ditabalkan sebagai daerah modal dan bumi Serambi Mekkah semata, melainkan tercatat sebagai spasial budaya yang amat penting di Asia Tenggara dan di Nusantara khususnya. Aceh pernah menjadi pusat Tamaddun penting di wilayah Asia Tenggara, terutama pada abad XVII sebagai periode puncak kegemilangannya, baik di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda maupun Sulthanah Tajul Alam Sri Ratu Safiatuddin.
Penting untuk disinggung sekilas catatan sejarah Aceh pada abad ke-17; tentang sumbangan yang signifikan yang diberikan oleh Aceh terhadap perkembangan kebudayaan di Asia Tenggara, khususnya kawasan Melayu. Hal ini diperlukan untuk melihat dan membuktikan tentang bumi Iskandar Muda ini memang merupakan icon yang amat sentral dalam perbincangan tentang kebudayaan dan perkembangan kebudayaan nusantara dan Asia Tenggara. Sehingga even kebudayaan yang diselenggarakan di bumi Serambi Mekkah ini relevan untuk dijadikan bahan refleksi tentang kebudayaan dan pembangunan kebudayaan di bumi pertiwi ini. Sekaligus pula, untuk mempertegas bahwa kebudayaan Aceh bukan hanya milik Aceh semata, melainkan juga milik bangsa Indonesia secara keseluruhan, dan juga bangsa-bangsa di Asia Tenggara.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,
Bahwa sejalan dengan kemakmuran Aceh dalam bidang ekonomi pada abad ke-17, pada saat yang sama juga berjalan secara bersamaan kemajuan dalam aspek budaya. Ada dua unsur yang dominan dalam hal ini, yaitu “Islam” dan “Budaya Melayu.” Secara budaya, kerajaan Aceh masa itu dapat dikatakan sebagai sebuah kerajaan Melayu.
Pada masa itu, Penguasa Aceh menempuh kebijakan untuk mengadopsi bahasa Melayu sebagai bahasa resmi kerajaan. Kebijakan ini merupakan langkah yang brilian dan memberikan dampak positif bagi perekonomian, karena telah sekian lama bahasa ini merupakan lingua franca di kawasan pelabuhan di Nusantara. Pengadopsian bahasa Melayu juga pada gilirannya memberikan dampak terhadap hal-hal yang berbentuk ilmu pengetahuan dan budaya. Karenanya, Kerajaan Aceh kemudian menjadi pewaris kerajaan Melayu Melaka dengan memberikan warna ke-Acehan dan, yang lebih penting, unsur ke-Islaman. Artinya, Aceh telah berhasil menciptakan standar baru bagi ke-Melayuan, yaitu model yang lebih Islami yang disinyalir oleh Leonard Y. Andaya sebagai “model masyarakat Melayu Aceh abad ke-17”.
Pengadopsian bahasa dan peng-Islaman budaya Melayu ini dapat dicermati dalam berbagai aspek. Antara lain, yang terpenting dari aspek-aspek tersebut adalah “budaya sastra” dan “sistem dan tradisi kerajaan.” Dari segi karya-karya sastra dan intelektual, abad ke-17 adalah kurun yang sangat produktif. Berbagai karya sastra, baik yang mengandung unsur keagamaan ataupun tidak, ditulis pada abad ini. Karya-karya sajak agama Melayu Hamzah Fansuri merupakan di antara yang terpenting. Karya-karya lain, seperti Hikayat Aceh, Bustan al-Salathin dan Taj al-Salathin, juga merupakan produk terpenting abad ke-17. Berbagai karya agama yang berbahasa Melayu telah dihasilkan oleh para intelektual Aceh abad ini. Secara singkat, bahasa Melayu telah menjadi bahasa sastra yang tinggi dan Islami, serta juga bahasa ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, nature bahasa Melayu yang telah dikembangkan di Aceh telah melampaui statusnya semula, yaitu sebagai lingua franca yang digunakan untuk tujuan diplomasi dan dagang. Perlu juga ditekankan bahwa berbagai karya Melayu yang dihasilkan di Aceh ketika itu juga dipengaruhi oleh bahasa dan budaya Arab dan Persia.
Tentu, pengadopsian dan pengembangan bahasa dan budaya Melayu model Aceh yang Islami ini berdampak luas bagi budaya Melayu secara keseluruhan. Hal ini meliputi banyak aspek, di antaranya, sastra, tradisi, dan ilmu pengetahuan. Karya-karya sastra Islami yang digubah di Aceh tersebar luas di kawasan Nusantara. Berbagai karya ‘ulama’, baik keagamaan maupun bukan, juga dibaca secara luas oleh para penuntut ilmu pengetahuan di wilayah ini.
Kitab Taj al-Salathin (Mahkota Raja-Raja) merupakan di antara contoh terbaik dalam hal ini. Teks ini tidak hanya populer di Aceh dan di semenanjung Melayu, tetapi juga di kawasan pulau Jawa. Sultan Hamengku Buwono I, pendiri dinasti Yogyakarta, diberitakan telah menggunakan kitab ini sebagai pedoman dalam urusan pemerintahan. Pangeran Dipanegara juga telah menekankan pada adiknya (Hamengku Buwono IV) akan pentingnya mempelajari teks ini. Peran penting kitab ini di Jawa juga dibuktikan oleh kebijakan para pembesar di istana Yogyakarta untuk mengcopynya segera setelah berakhirnya perang Jawa (1825-1830). Popularitas kitab ini terus berlanjut ketika ia dicopy sebanyak empat kali pada abad ke-19, dan bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa (Carey, 1975: 344).
Kitab Taj al-Salathin juga dipelajari di dua keraton Yogyakarta dan Surakarta oleh “kalangan bangsawan, putri-putri bangsawan, para petinggi kerajaan, rakyat biasa, bahkan kalangan Muslim Cina” (Hooykaas, 1947: 173). Contoh ini menunjukkan bahwa kitab Taj al-Salathin tidak hanya berperan dalam membudayakan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu pengetahuan, tetapi isi yang ia kandung telah menembus batas wilayah dan budaya. Ini adalah sebuah contoh dari sekian banyak sumbangan Aceh dalam membudayakan dan meng-Islamkan bahasa Melayu di kawasan Nusantara.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,
Deskripsi singkat dan sekilas tentang jejak kegemilangan Aceh di atas dipaparkan dengan maksud untuk meminta perhatian kita semua, bahwa dimensi kebudayaan adalah sebuah sisi Aceh teramat penting. Dari bumi Serambi Mekkah ini kita semua tahu bermula sebuah peradaban baru Nusantara yang berasaskan Islam. Di negeri ini anyaman cikal bakal kesusatraan Melayu berawal dan yang kemudian menjadi kesusateraan Indonesia. Dengan demikian, perbincangan tentang kebudayaan Indonesia tidaklah sekali-kali mungkin untuk mengabaikan negeri para pahlawan kesuma bangsa ini, dan karenanya, kita semua harus bersama-sama dengan sekuat tenaga untuk memberdayakannya sebagai jiwa pembangunan negeri ini.
Seminar budaya berskala internasional yang sebentar lagi akan dimulai tentu bermaksud untuk memberikan perhatian yang sungguh-sungguh tentang sisi Aceh teramat penting ini. Akan tetapi, diskusi ini tidak sekadar melakukan napak tilas dan bernostalgia ke masa lalu Aceh.
Melalui Seminar bertema “Reaktualisasi Budaya Aceh dalam Konteks Globalisasi” ini, dengan menghimpun berbagai pemikiran dan gagasan dalam rangka menggali, mengembangkan, dan melestarikan kebudayaan Aceh untuk membangun konfigurasi kebudayaan nasional serta menemukan format konservasi budaya yang sesuai dengan konteks globalisasi, kiranya dapat menyadarkan kita semua untuk kembali ke fitrah Aceh sebagai sebuah negeri pewaris tradisi besar Nusantara dengan masyarakatnya yang berbudaya dan berwawasan pluralistik serta egalitarian guna membangun masa depan masyarakat Indonesia yang berbudaya luhur dan berkesejahteraan yang berkeadilan. Dari seminar ini, di mana apresiasi serta inovasi budaya akan ditingkatkan, kiranya dapat diperkuat kepribadian bangsa, dipertebal semangat kebangsaan, dan diperkokoh jiwa persatuan dan kesatuan dalam rangka integrasi bangsa.
Berbarengan dengan momentum pelaksanaan Seminar Budaya PKA IV ini dilaksanakan pula Muzakarah Masjid se-Asean. Kita semua tahu Masjid dalam perspektif budaya Melayu bukan sekadar tempat ritual keagamaan, melainkan juga sebagai sentra-budaya. Oleh karena itu, kegiatan muzakarah yang bermaksud menghimpun pemikiran dalam rangka mengembangkan masjid sebagai salah satu sentra-budaya dan pusat aktivitas umat merupakan sesuatu yang penting untuk diberikan perhatian dalam konteks pemajuan dan pelestarian budaya bangsa.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,
Sebagai spasial penting budaya nusantara, pelestarian dan pembangunan kebudayaan tanah rencong ini tidak bisa tidak harus menjadi perhatian sungguh-sungguh dari Pemerintah. Sehubungan dengan itu, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi NAD untuk menetapkan 2004 sebagai Tahun Budaya dengan even puncaknya berupa penyelenggaraan PKA IV, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata memadukan, mengintegrasikan, dan mengalokasikan sebagian kegiatannya untuk tahun 2004 ini guna mengisi Tahun Budaya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Melalui untaian acara dalam bingkai “Khasanah Budaya Pemersatu Bangsa”, Kementerian Budaya dan Pariwisata menyelenggarakan Lawatan Sejarah tingkat Nasional II Tahun 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam bertema “Dari Sabang Kita rajut Simpul-simpul Perekat Ke-Indonesiaan” yang diikuti oleh Siswa dan Guru Terbaik Tingkat SMA se-Indonesia. Kegiatan lain ialah Pameran dan Pagelaran Seni se-Sumatera (PPSS) VII yang diikuti oleh seluruh Taman Budaya yang ada di Pulau Andalas, Festival Pertunjukan Seni Nusantara yang diikuti oleh Tim Kesenian dari Seluruh Indonesia, Dialog Nasional Sejarah Pemikiran Kolektif Bangsa bertema: “Aceh dalam Kerangka NKRI”, Pameran dan Diskusi Makanan Tradisional Aceh bertema: “Cita Rasa Makanan Tradisional Aceh dalam Tantangan”, dan Pameran dan Diskusi Tenun Tradisional Aceh bertema: “Mengangkat Citra Tekstil Tradisional Aceh”. Keseluruhan kegiatan tersebut bermaksud untuk mengangkat dan melestarikan budaya bumi tamaddun, Aceh, ini. Selain itu, ada satu lagi event penting dan senantiasa terhubungkan dengan kegiatan ini ialah Semiloka Snouck Hurgronje, pengarang buku “De Atjehers” yang tersohor itu.
Hadirin dan hadirat yang berbahagia,

Akhirnya, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Seminar Budaya, Muzakarah Masjid Se-Asean, Dialog Nasional Sejarah Pemikiran Kolektif Bangsa, dan Semiloka Snouck Hurgronje, dalam rangka Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) IV dengan resmi saya nyatakan dibuka. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati ketulusan hati kita semua. Terima kasih, selamat berseminar, berdialog, dan bersemiloka.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA,



I GEDE ARDIKA